Mekanisme Interaksi Obat Farmakodinamik

Mekanisme Interaksi Obat Farmakodinamik

Interaksi obat adalah perubahan efek suatu obat akibat pemakaian obat lain (interaksi obat-obat) atau oleh makanan, obat tradisional dan senyawa kimia lain. Interaksi obat yang signifikan dapat terjadi jika dua atau lebih obat / makanan digunakan bersama-sama (Agoes, 1989).

rush.edu

 

Interaksi Farmakodinamik

Interaksi farmakodinamik adalah interaksi yang dapat mempengaruhi efek dari salah satu obat. Interaksi ini dapat menimbulkan efek sinergi dan antagonis karena memiliki mekanisme aksi sama. Interaksi farmakodinamik sinergi adalah apabila dua obat atau lebih digunakan secara bersamaan dapat memberikan efek sinergi atau memberikan efek yang lebih menguntungkan daripada penggunaan tunggal. Sebagai contoh adalah pemberian dua obat yang bersifat sedatif-hipnotik seperti benzodiazepin dan antihistamin. Efek sedasi dan depresi SSP lebih meningkat daripada penggunaan tunggal. tetapi, walaupun menguntungkan, tetap dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan, maka penggunaan kombinasi harus secara tepat, hati-hati, dan terus dikontrol (Holford, 2007).

 

Mekanisme Interaksi Obat Farmakodinamik :

1. Sinergisme

Interaksi farmakodinamik yang paling umum terjadi adalah sinergisme antara dua obat yang bekerja pada sistem, organ, sel, enzim yang sama dengan efek farmakologi yang sama. Semua obat yang mempunyai fungsi depresi pada susunan saraf pusat- sebagai contoh, etanol, antihistamin, benzodiazepin (diazepam, lorazepam, prazepam, estazolam, bromazepam, alprazolam), fenotiazin (klorpromazina, tioridazina, flufenazina, perfenazina, proklorperazina, trifluoperazina), metildopa, klonidina- dapat meningkatkan efek sedasi.

Semua obat antiinflamasi non steroid dapat mengurangi daya lekat platelet dan dapat meningkatkan (pada derajat peningkatan yang tidak sama) efek antikoagulan. Suplemen kalium dapat menyebabkan hiperkalemia yang sangat berbahaya bagi pasien yang memperoleh pengobatan dengan diuretik hemat kalium (contoh amilorida, triamteren), dan penghambat enzim pengkonversi angiotensin (contoh kaptopril, enalapril) dan antagonis reseptor angiotensin-II (contoh losartan, valsartan). Dengan cara yang sama verapamil dan propanolol (dan pengeblok beta yang lain), keduanya mempunyai efek inotropik negatif, dapat menimbulkan gagal jantung pada pasien yang rentan.

2. Antagonisme

Antagonisme terjadi bila obat yang berinteraksi memiliki efek farmakologi yang berlawanan. Hal ini mengakibatkan pengurangan hasil yang diinginkan dari satu atau lebih obat. Sebagai contoh, penggunaan secara bersamaan obat yang bersifat beta agonis dengan obat yang bersifat pemblok beta (Salbutamol untuk pengobatan asma dengan propanolol untuk pengobatan hipertensi, dapat menyebabkan bronkospasme); vitamin K dan warfarin; diuretika tiazid dan obat antidiabet.

Beberapa antibiotika tertentu berinteraksi dengan mekanisme antagonis. Sebagai contoh, bakterisida seperti penisilin, yang menghambat sintesa dinding sel bakteri, memerlukan sel yang terus bertumbuh dan membelah diri agar berkhasiat maksimal. Situasi ini tidak akan terjadi dengan adanya antibiotika yang berkhasiat bakteriostatik, seperti tetrasiklin yang menghambat sintesa protein dan juga pertumbuhan bakteri.

3. Efek reseptor tidak langsung

Kombinasi obat dapat bekerja melalui mekanisme saling mempengaruhi efek reseptor yang meliputi sirkulasi kendali di fisiologis dan biokimia. Pengeblok beta non selektif seperti propanolol dapat memperpanjang lamanya kondisi hipoglikemi pada pasien diabet yang diobati dengan insulin dengan menghambat mekanisme kompensasi pemecahan glikogen. Respon kompesasi ini diperantarai oleh reseptor beta Z namun obat kardioselektif seperti atenolol lebih jarang menimbulkan respon hipoglikemi apabila digunakan bersama dengan insulin. Lagipula obat-obat pengeblok beta mempunyai efek simpatik seperti takikardia dan tremor yang dapat menutupi tanda-tanda bahaya hipoglikemi, efek simpatik ini lebih penting dibandingkan dengan akibat interaksi obat pada mekanisme kompensasi di atas.

4. Gangguan cairan dan elektrolit

Interaksi obat dapat terjadi akibat gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. Pengurangan kadar kalium dalam plasma sesudah pengobatan dengan diuretik, kortikosteroid, atau amfoterisina akan meningkatkan resiko kardiotoksisitas digoksin. Hal yang sama, hipokalemia meningkatkan resiko aritmia ventrikuler dengan beberapa obat antiaritmia seperti sotalol, kuinidin, prokainamida, dan amiodaron. Penghambat ACE mempunyai efek hemat kalium, sehingga pemakaiannya bersamaan dengan suplemen kalium atau diuretik hemat kalium dapat menyebabkan hiperkalemia yang berbahaya. Loop diuretik dapat meningkatkan konsentrasi obat-obat yang bersifat nefrotoksik seperti gentamisin dan sefaloridina dalam ginjal.

 

Beberapa tools untuk mengecek interaksi obat secara online seperti : 

Brigham Health 

http://healthlibrary.brighamandwomens.org/Library/DrugReference/DrugInteraction/

Web MD Interaction Checker

https://www.webmd.com/interaction-checker/default.htm

Medscape Drug Interaction Checker

https://reference.medscape.com/drug-interactionchecker

RX List Drug Interaction

https://www.rxlist.com/drug-interaction-checker.htm

Drug Bank Interaction Checker

https://www.drugbank.ca/interax/multi_search

Benner Health Interaction Checker

https://www.bannerhealth.com/health-library/drug-reference/drug-interaction-checker

 

Pustaka:

Agoes, Goeswin dan Mathilda B.Widianto. 1989. Interaksi  obat. ITB : Bandung.

Holford, N. H. G. 2007. Pharmacokinetics & Pharmacodynamics:Rational Dosing & the Time Course of Drug Action. Dalam: Katzung, Bertram G. Basic & Clinical Pharmacology, Tenth Edition. United States: Lange Medical Publications, 34-49.

kamelia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *