Jerawat: Klasifikasi, Faktor Penyebab, dan Pengobatannya

Jerawat: Klasifikasi, Faktor Penyebab, dan Pengobatannya

Jerawat atau dalam istilah medis disebut acne vulgaris, merupakan peradangan kronis yang bermuara di saluran kelenjar minyak kulit yang menyertai akibat adanya penyumbatan pori-pori kulit. Sehingga pengeluaran minyak kulit menjadi tersumbat yang menjadikannya jerawat. Jerawat dapat terjadi baik di muka, leher, lengan atas, dada, maupun punggung.

Berikut merupakan klasifikasi jerawata bedasarkan jenisnya:

  • Acne punctata

Blackhead comedo atau whitehead comedo yang merupakan awal tumbuhnya jerawat

  • Acne papulosa

Peradangan disekitar komedo berupa tonjolan kecil (disebut bentuk papul)

  • Acne pustulosa

Merupakan acne populosa yang disertai pus atau nanah pada ujung jerawat (disebut bentuk pustul)

  • Acne indurate

Merupakan jerawat yang terinfeksi bakteri yang bernama Staphylococcus epidermidis yang menyebabkan timbulnya luka

  • Cystic acne

Disebut juga jerawat batu

Sumber Gambar: bujint.com

Sedangkan derajat keparahan jerawat menutrut American Academy of Dermatology adalah:

Derajat Keparahan Komedo Pustul/Papul Nodul
Ringan <25 <10
Sedang >25 10-30 >10
Berat >30 >10

 

Nodul adalah suatu masa besar berbentuk kubah berwarna merah, mula-mula padat kemudian dapat melunak dan sering meninggalkan jaringan parut.

Bedasarkan penelitian Kabau (2012), penyebab pasti terjadinya jerawat belum diketahui. Akan tetapi beberapa faktor mungkin dapat menjelaskan terjadinya jerawat, yaitu sebagai berikut:

  1. Genetik

Terdapat suatu penelitian yang menyebutkan bahwa adanya gen tertentu yang disebut CYP17-34 C yang dapat menyebabkan terjadinya jerawat.

  1. Faktor hormonal

Berhubungan dengan periode premenstrual (periode sebelum haid) pada sekirat 60-70% wanita, lesi akne akan menjadi lebih aktif oleh karena hormon progesteron.

  1. Makanan

Makanan tinggi lemak, tinggi karbohidrat, alkohol, makan pedas, dan tinggi yodium dapat memperberat kondisi jerawat.

  1. Kosmetik

Bahan-bahan yang disebut komedogenik dapat menyebabkan terjadinya jerawat.

  1. Adanya infeksi atau trauma
  2. Kondisi kulit

Kulit berminyak, kulit kotor oleh debu/polusi, dan sel-sel kulit mati yang dapat menyebabkan terjadinya penyumbatan salutan kelnjar minyak berhubungan dengan terjadinya jerawat.

  1. Faktor pekerjaan

Karyawan-karyawan pabrik yang terpapar bahan kimia, seperti oli dan debu-debu logam, jerawat karena faktor ini disebut Occupational Acne.

  1. Musim/iklim

Seuhu tinggi, kelembaban tinggi, dan paparan sinar UV yang tinggi dapat menebabkan timbulnya jerawat.

  1. Psikis

Stres emosi berhubungan dengan peningkatan produksi hormon androgen yang dapat menyebabkan timbulnya jerawat.

Tatalaksana pengobatan jerawat bedasarkan Zaenglein et al. (2016):

Pengobatan Lini Pertama

  1. Derajat keparahan ringan
  • Benzoyl peroxide (BP)
  • Retinoid topikal
  • Terapi topikal kombinasi: BP + Antibiotik/ Retinoid + BP/ Retinoid + BP + Antibiotik
  1. Derajat keparahan sedang
  • Terapi topikal kombinasi: BP + Antibiotik/ Retinoid + BP/ Retinoid + BP + Antibiotik
  • Antibiotik oral + Retinoid topikal + BP
  • Antibiotik oral + Retinoid topikal + BP + Antibotik topikal
  1. Derajat keparahan berat
  • Antibiotik oral + Terapi topikal kombinasi topikal (BP + Antibiotik/ Retinoid + BP/ Retinoid + BP + Antibiotik)/ Isotretinoin oral

Berikut ini merupakan penjelasan mengenai agen terapi pada jerawat (Zaenglein et al., 2016): 

Benzoyl Peroxide (BP)

BP adalah agen antibakteri yang membunuh bakteri penyebab jerawat yaitu P. acnes melalui pelepasan radikal oksigen dan juga bersifat komedolitik ringan (menghilangkan komedo). BP tersedia dalam berbagai sediaan sebagai pencuci muka, krim, atau gel. Efek samping BP biasanya adalah iritasi dan alergi. Konsentrasi yang digunakan dalam suatu sediaan untuk terapi jerawat biasanya adalah 2.5-10%. Konsentrasi yang lebih rendah (misalnya, 2,5-5%), berbasis air, dan zat pencuci mungkin lebih dapat ditoleransi pada pasien dengan kulit yang lebih sensitif. Hasil terapi dapat diketahui dalam 5 hari.

Antibiotik topikal

Antibiotik topikal untuk jerawat bekerja melalui mekanisme sebagai anti peradangan dan melalui efek antibakteri. Agen-agen ini paling baik digunakan dalam kombinasi dengan BP, yang meningkatkan efektivitas terapi dan mengurangi resistensi. Terapi tunggal dengan antibiotik topikal dalam terapi jerawat tidak dianjurkan karena meningkatkan perkembangan resistensi antibiotik. Larutan atau gel Clindamycin 1% saat ini merupakan antibiotik topikal yang disukai untuk terapi jerawat. Erythromycin topikal dalam konsentrasi 2% tersedia dalam bentuk krim, gel, atau lotion. Adanya agen kombinasi dapat meningkatkan kepatuhan terhadap rejimen pengobatan. Toleransi agen ini sangat baik; penggunaan klindamisin pada kehamilan termasuk kategori B.

Retinoid topikal

Retinoid topikal adalah turunan vitamin A. Tiga agen aktif yang tersedia: tretinoin (0,025-0,1% dalam krim, gel, atau microsphere gel vehicles), adapalene (0,1%, krim 0,3%, atau 0,1% lotion), dan tazarotene (0,05%, krim 0,1%, gel atau busa). Setiap retinoid berikatan dengan reseptor asam retinoat yang berbeda: tretinoin menjadi alpha, beta, dan gamma, dan tazarotene dan adapalene, secara selektif, menjadi beta dan gamma, sehingga memberikan sedikit perbedaan dalam aktivitas, tolerabilitas, dan efektivitas. Retinoid adalah terapi topikal untuk jerawat karena bersifat komedolitik dan anti peradangan. Efek samping penggunaan retinoid termasuk kulit kering, eritema, dan iritasi, yang dapat dikurangi dengan penurunan frekuensi penggunaan. Retinoid topikal dikaitkan dengan peningkatan risiko fotosensitifitas; tabir surya harian dapat digunakan bersamaan untuk mengurangi risiko terbakar sinar matahari. Penggunaan tretinoin dan adapalene pada kehamilan termasuk kategori C, sedangkan tazarotene adalah kategori X; oleh karena itu, pasien harus diberi konseling tentang risiko kehamilan ketika memulai retinoid atau jika pasien menginginkan kehamilan.

Azelaic acid 20%

Azelaic acid 20% efektif sebagai komedolitik, antibakteri, dan antiinflamasi. Termasuk kategori B dalam penggunaannya pada kehamilan.

Asam salisilat

Asam salisilat adalah agen komedolitik yang dapat dibeli tanpa resep dokter dengan kekuatan sediaan 0,5% hingga 2% untuk terapi jerawat. Uji klinis menunjukkan efektivitas asam salisilat pada jerawat terbatas.

Antibiotik Oral

Antibiotik oral diindikasikan dalam peradangan jerawat sedang sampai berat dan harus digunakan dalam kombinasi dengan retinoid topikal dan BP. Antibiotik oral yang terbukti dapat mengatasi jerawat diantaranya adalah tetrasiklin, doksisiklin, minosiklin, trimetoprim/sulfametoksazol (TMP/SMX), trimetoprim, eritromisin, azitromisin, azitromisin, amoksisilin, dan sefaleksin.

Daftar Pustaka:

Baumann L, Keri J. Acne (Type 1 sensitive skin). In : Baumann L, Saghari S, Weisberg E, eds. Cosmetic dermatology principles and practice. 2 nd ed. New York: Mc Graw Hill. 43(1): 121-7. 2009.

Draelos, Z.D. and Dinardo J.C. A reevaluation of comedogenicity concept. Journal of the American Academy of Dermatology, 2006, 54(3): 507-12.

Harper, J.C. 2007. Acne Vulgaris, Edisi Ke-4. Jakarta: EGC.

Nguyen, S.H., Dang T.P. and Maibach H.I. Comedogenicity in rabbit: somecosmetic ingredients/vehicles”. Cutaneous and Ocular Toxicology, 2007, 26(4): 287-92.

Magin, P., Adams J., Heading G., Pond D., Smith W. The causes of acne: a qualitative study of patient perceptions of acne causation and their implications for acne care. Dermatol Nurs, 2006, 18(2):3 44-9.

Muliyawan, D., dan Suriana, N. 2013. A-Z Tentang Kosmetik. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Purwaningdyah, R.A.K., Jusuf N.K. Profil Penderita Akne Vulgaris pada Siswa-Siswi di SMA Shafiyyatul Amaliyyah Medan. E-Journal FK USU, 2013, 1(1): 1-8.

Sukanto, H., Martodihardjo S., Zulkarnain I. 2005. Ilmu Penyakit Kulit, Ed.3. Surabaya: RSUD Dokter Soetomo.

Kabau, S. 2012. Hubungan Antara Pemakaian Jenis Kosmetik Dengan Kejadian Akne Vulgaris. Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.

Wasitaatmadja, S. M. 1997. Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

Zaenglein et al. Guidelines of care for the management of acne vulgaris. J Am Acad Dermatol, 2016.

Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *