Migren: Faktor Pemicu, Gejala, dan Pengobatannya

Apa yang dimaksud dengan migren atau migrain?

Migren atau migrain merupakan salah satu jenis nyeri kepala yang ditandai dengan nyeri kepala yang umumnya di salah satu sisi kepala, nyeri kepala terasa berdenyut, intensitas nyerinya dari sedang sampai berat dalam waktu 4-72 jam dan diperberat dengan aktivitas, dapat disertai mual, muntah, sensitif terhadap cahaya atau suara. Migren lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki, sekitar 2-3x lebih sering terjadi migren pada perempuan.

Sumber Gambar: www.freepik.com/

Apa saja klasifikasi dari migren? 

Terdapat 3 klasifikasi migren sebagai berikut:

  1. Migren dengan aura : aura merupakan gangguan visual (penglihatan) yang mendahului serangan nyeri kepala.
  2. Migren tanpa aura
  3. Status migren : migren yang tidak sembuh sendiri yang bertahan lebih dari 72 jam.

Apa yang menjadi penyebab terjadinya migren?

Penyebab migren belum diketahui secara pasti. Terdapat beberapa teori yang mungkin dapat menjelaskan proses terjadinya migren. Berikut bebrapa faktor yang dapat memicu terjadinya migren, yaitu:

  1. Faktor psikologis (stress, depresi)
  2. Faktor lingkungan (rokok, bau menyengat, perubahan cuaca, cahaya atau suara)
  3. Faktor makanan (makanan yang banyak mengandung tiramin, makanan yang banyak mengandung zat tambahan makanan, cokelat, kopi)
  4. Obat-obatan (simetidin, kokain, fluoksetin, indometasin, nifedinin, dll)
  5. Faktor hormonal (menstruasi, hamil, menopause)
  6. Gaya hidup (kurang atau kebanyakan tidur, dll)

Bagaimana gejala terjadinya sebelum migren sampai sesudah migren? 

Gejala klinis terjadinya migren berbeda setiap individu, berikut gambaran gejala terjadinya migren:

  • Prodrome, merupakan suatu rangkaian “eringatan” sebelum terjadinya serangan yang meliputi perubahan mood
  • Aura, atau gangguan visual yang mendahului serangan sakit kepala
  • Terjadinya sakit kepa yang umumnya terjadi di satu sisi, berdenyut-denyut, disertai mual dan muntah, sensitif terhadap cahaya dan suara, terjadi antara 4-72 jam
  • Berhentinya sakit kepala meskipun tidak diobati, nyeri biasanya akan menghilang dengan tidur
  • Postdrome, merupakan tanda-tanda setelah serangan migren seperti tidak bisa makan, tidak bisa konsentrasi, atau kelelahan

Bagaimana tatalaksana pengobatan migren? 

Tujuan pengobatan migren adalah yang pertama untuk menghilangkan gejala/nyeri saat serangan, disebut terapi abortif dan yang kedua untuk mencegah serangan migren kembali, atau disebut terapi profilaksis. Dalam jangka panjang, terapi bertujuan untuk mengurangi frekuensi dan keparahan serangan migren, mencegah serangan migren berikutnya, meningkatkan kualitas hidup pasien, dan mengedukasi pasien untuk dapat menatalaksana penyakitnya. Terapi abortif dimulai saat terjadinya serangan, sedangkan terapi profilaksis dimulai jika serangan terjadi lebih dari 2-3x per bulan, intensitas serangan yang berat, adanya gangguan fungsi lain, atau efek samping serius terjadi akibat terapi gejala. Berikut merupakan penjelasan tatalaksana pengobatan migren:

  1. Terapi abortif (saat terjadi serangan)
  2. Analgesik (Antinyeri)

Terapi abortif 

Analgesik digunakan untuk terapi gejala migren yang ringan sampai sedang. Analgesik ringan contohnya paracetamol, ibuprofen, aspirin, dan naprofen. Jika tidak cukup adekuat mengatasi gejala, maka dapat digunakan terapi kombinasi seperti midrin (kombinasi paracetamol, isometheptene, dan diklorofenazon) atau kombinasi paracetamol atau aspirin dengan kafein.

  • Golongan Triptan

Golongan triptan bekerja dengan efek menghambat inflamasi (peradangan) neurogenik, digunakan ketika terapi dengan analgesik tidak adekuat atau pada gejala migren yang berat. Contohnya sumatriptan.

  • Alkaloid ergot dan turunannya

Alkaloid ergot dan turunannya juga digunakan ketika terapi dengan analgesik tidak adekuat atau pada gejala migren yang berat. Pemberian secara IV dapat dilakukan untuk serangan yang berat. Contohnya ergotamin tartat dan diihidroergotamin.

Jika ketiga obat tersebut masih belum adekuat, maka dapat diberikan opioid kombinasi dengan analgesik, butorphanol nasal spray.

  • Antiemetik

Antiemetik digunakan untuk mencegah mual muntah, diberika 15-30 menit sebelum obat migren.

Terapi profilaksis (mencegah serangan kembali)

  • Golongan beta blocker

Contoh: propranolol, timolol, atenolol, metoprolol, nadolol.

  • Antidepresan trisilik

Contoh: amitriptilin, doxepin, nortriptilin, protriptilin, dan imipramine.

  • Methysergide 
  • Asam valproat/ natrium valproat

Perlu diperhatikan bahwa obat yang dapat dibeli secara bebas oleh masyarakat untuk mengatasi migren adalah analgesik seperti paracetamol, aspirin, paracetamol/aspirin+kafein, ibuprofen. Untuk menegakkan diagnosis dan pengobatan yang tepat, perlu pemeriksaan oleh dokter. Mengurangi atau menghindari faktor pemicu mungkin dapat mencegah terjadinya migren.

Berikut merupakan obat yang dapat digunakan untuk mengatasi serangan nyeri migren yang dapat dibeli tanpa resep dokter dan cara meminumnya:

  • Paracetamol (Asetaminofen) 
Sumber Gambar: bukalapak.com

Dosis oral 0,5–1 gram setiap 4–6 jam hingga maksimum 4 gram per hari. Dikontraindikasi terhadap pasien dengan gangguan fungsi hati berat dan hipersensitivitas. Efek samping yang terjadi pada penggunaan jangka panjang dan dosis berlebihan atau overdosis dapat menyebabkan kerusakan hati.

  • Ibuprofen 
Sumber Gambar: mediskus.com

Dewasa, dosis yang dianjurkan 200-250 mg 3-4 kali sehari. Sebaiknya diminum setelah makan. Dosis maksimum 2400 mg/hari, jika kondisi sudah stabil selanjutnya dosis dikurangi hingga maksimum 1800 mg/hari. Dikontraindikasikan kepada pasien kehamilan trimester akhir, pasien dengan ulkus peptikum (ulkus duodenum dan lambung), hipersensitivitas, polip pada hidung, angioedema, asma, rinitis, serta urtikaria ketika menggunakan asam asetilsalisilat atau AINS lainnya. Efek Samping yang umum terjadi pusing, sakit kepala, dispepsia, diare, mual, muntah, nyeri abdomen, konstipasi, hematemesis, melena, perdarahan lambung, ruam.

  • Asetosal (Asam Asetilsalisilat)
Sumber Gambar: hellosehat.com

Dosis yang dianjurkan 300-900 mg tiap 4-6 jam bila diperlukan; maksimum 4 g per hari, diminum sesudah makan. Efek samping yang mungkin sering terjadi adalah iritasi saluran cerna dengan perdarahan ringan yang asimptomatis.

Daftar Pustaka

DiPiro, Joseph T., Robert L. Talbert, Gary C. Yee, Gary R. Matzke, Barbara G. Wells dan L. Michael Posey, 2008, Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach Seventh Edition, New York:  The McGraw-Hill Companies, Inc.

Price, Sylvia dan Lorraine M.Wilson. Patofisiologi edisi 6.Jakarta : EGC.2003.

Headache Classification Subcommitee of the International Headache Society. The International Headache Classification Disorder: 2nd Edition. Cephalgia 2004; 24 Suppl 1:1-160.

http://pionas.pom.go.id/

Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *